Sains dan Tanggung Jawab terhadap Lingkungan
- Sains, Etika & Kehidupan
Krisis lingkungan sering kali dibicarakan melalui data mengenai perubahan iklim, emisi, kerusakan ekosistem, dan perubahan kondisi bumi. Data tersebut sangat penting untuk memahami apa yang sedang terjadi. Sains memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengamati perubahan, membangun model, melakukan prediksi, dan mengembangkan berbagai teknologi yang dapat digunakan untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan. Namun, terdapat pertanyaan lain yang tidak berhenti pada persoalan pengukuran: mengapa manusia memiliki tanggung jawab terhadap alam?
Buku Mengapa Sains Butuh Tuhan? membawa pertanyaan tersebut ke dalam pembahasan mengenai ekologi. Krisis lingkungan dipandang sebagai persoalan yang tidak hanya membutuhkan solusi teknis, tetapi juga pemaknaan kembali terhadap posisi manusia sebagai pengelola bumi, bukan semata-mata sebagai pemiliknya.
Cara pandang ini mengubah hubungan manusia dengan lingkungan. Jika alam hanya dipahami sebagai sumber daya yang dapat digunakan, maka hubungan manusia dengan alam cenderung bersifat utilitarian. Sebaliknya, ketika manusia melihat dirinya sebagai khalifah, maka kemampuan untuk mengelola alam juga membawa tanggung jawab moral. Kemampuan manusia untuk menggunakan teknologi tidak dengan sendirinya berarti bahwa semua hal yang secara teknis dapat dilakukan menjadi sesuatu yang layak dilakukan.
Di sinilah dialog antara sains, teknologi, dan nilai menjadi penting. Sains dapat membantu menjelaskan perubahan lingkungan dan memberikan dasar bagi pengambilan keputusan. Teknologi dapat menyediakan sarana untuk merespons persoalan ekologis. Namun, pertanyaan mengenai tujuan dan batas penggunaan teknologi membutuhkan landasan etis yang tidak semata-mata ditentukan oleh data.
Buku ini menempatkan ekologi bersama isu-isu lain seperti bioetika, kecerdasan buatan, sistem ekonomi, dan kesehatan mental. Keseluruhannya dipandang sebagai ruang kontemporer tempat manusia berhadapan dengan konsekuensi dari kemampuan intelektual dan teknologinya sendiri.
Dalam konteks tersebut, persoalan ekologis tidak cukup dipahami sebagai persoalan teknologi. Ia juga merupakan persoalan cara manusia memahami dirinya dan hubungannya dengan alam. Pertanyaan mengenai apa yang boleh dilakukan terhadap lingkungan pada akhirnya berkaitan dengan cara kita memahami tanggung jawab, amanah, dan tujuan kehidupan.
Kerangka Epistemologi Tauhid yang diperkenalkan dalam buku Mengapa Sains Butuh Tuhan? berusaha mempertemukan wahyu, logika, dan realitas empiris dalam satu kerangka pengetahuan. Pendekatan tersebut memungkinkan persoalan lingkungan dibaca secara lebih luas: tidak hanya sebagai fenomena yang dapat diukur, tetapi juga sebagai persoalan yang memiliki dimensi normatif dan moral.
Karena itu, membicarakan krisis lingkungan berarti juga membicarakan manusia. Seberapa jauh manusia boleh mengeksploitasi alam? Apa batas antara kebutuhan dan keserakahan? Dan apa arti sebenarnya dari menjadi khalifah di bumi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa persoalan ekologis tidak hanya membutuhkan lebih banyak data dan teknologi, tetapi juga membutuhkan kerangka nilai yang dapat mengarahkan bagaimana pengetahuan dan teknologi digunakan.
