Mengapa Sains Butuh Tuhan?

Mengakhiri Dikotomi yang Memecah Peradaban

Kontributor

Kategori

Sinopsis

Kita hidup di tengah dua kecenderungan yang sama-sama problematis. Di satu sisi, ateisme baru dan saintisme menempatkan sains sebagai satu-satunya jalan menuju kebenaran. Di sisi lain, sebagian kalangan memandang sains modern dengan kecurigaan dan seolah harus memilih antara iman dan rasionalitas.

Mengapa Sains Butuh Tuhan? hadir untuk melampaui pertentangan tersebut. Buku ini bukan pembelaan apologetik yang reaktif dan bukan pula ajakan meninggalkan nalar ilmiah. Sebaliknya, buku ini menawarkan pendekatan yang argumentatif untuk mempertemukan wahyu, akal, dan realitas dalam satu kerangka pengetahuan yang integratif.

Melalui Epistemologi Tauhid, pembaca diajak menelaah berbagai persoalan kontemporer: Big Bang dan fine-tuning alam semesta, rekayasa genetika dan bioetika, krisis ekologi, kecerdasan buatan dan hakikat manusia, sistem ekonomi dan ketimpangan, hingga kesehatan mental di tengah kemajuan material.

Di setiap pembahasan, sains tidak diposisikan sebagai lawan agama. Sains tetap mempertahankan daya kritis dan empirisnya, tetapi memperoleh kembali orientasi etis dan teleologis ketika ditempatkan dalam dialog dengan wahyu.

Ditulis untuk akademisi, ilmuwan, mahasiswa, santri, profesional, serta pembaca umum yang tertarik pada perjumpaan antara sains, filsafat, dan spiritualitas, buku ini menawarkan sebuah jembatan bagi mereka yang menolak dipaksa memilih antara integritas ilmiah dan komitmen keagamaan.